Diskon besar di banyak kategori produk.
0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

Mengenal Alat Musik Tifa, Sejarah dan Fungsi Gendang Khas Papua

Mengenal Alat Musik Tifa, Sejarah dan Fungsi Gendang Khas Papua – Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan daerah menciptakan ragam budaya yang berbeda. Begitu pula dalam bermain musik, setiap daerah memiliki ciri khas suara, bentuk, dan fungsi yang bervariasi. Contohnya adalah daerah Papua, salah satu wilayah di bagian Indonesia Timur yang terkenal dengan alat musiknya yang bernama tifa

Mengenal Sejarah Tifa

Salah satu alat musik khas kebanggaan masyarakat Papua yang terkenal yaitu tifa, ternyata memiliki cerita sejarah unik yang melatar belakangi pembuatannya. Masyarakat pedalaman masih percaya dengan mitos dibalik cerita yang beredar.

Dari berbagai versi yang ada, yang paling terkenal adalah cerita dari daerah Biak. Konon, hiduplah dua bersaudara laki-lai di daerah Biak yang bernama Sarenbeyar dan Fraimun. Kedua nama tersebut memiliki arti yang menandakan bagaimana kedekatan mereka berdua.

Sarenbeyar berasal dari dua suku kata yang memiliki makna busur (=Saren) dan anak panah yang telah terpasang pada busur (=Beyar). Sedangkan nama Fraimun memiliki arti perangkat perang dengan bagian gagangnya bisa digunakan untuk membunuh.

Saat desa Maryendi tempat tinggal mereka tenggelam, kedua kakak beradik tersebut akhirnya memutuskan untuk mengembara hingga tiba di Wampember. Untuk bertahan hidup, Fraimun dan Sarenbayer berburu di tengah hutan.

Disinilah sejarah alat musik tifa dari Papua berawal, Pada suatu hari, mereka menemukan sebatang pohon bernama opsur yang memiliki arti kayu atau pohon yang bisa mengeluarkan suara-suara di tengah hutan. Mereka berdua melihat sebuah pohon opsur yang ternyata dihuni oleh hewan-hewan kecil seperti lebah madu, soa soa, biawak, dan lain-lain.

Dikarenakan penasaran, mereka memutuskan untuk menebang pohon opsur, mengambil bagian tengah batang kayu dan dilubangi hingga menyerupai pipa dengan menggunakan alat sederhana bernama nibong (= besi panjang yang bagian ujungnya sangat tajam).

Agar tidak mudah lapuk dan terlihat lebih bagus, bagian dalam pipa dari batang kayu tersebut akhirnya dibakar. Untuk menutupi kedua sisi pipa, terlintas untuk menggunakan kulit paha sang kakak. Namun, niat tersebut dibatalkan karena mengingat hal tersebut pasti sangat menyakitkan.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan kulit dari hewan soa soa. Cara menangkap hewan kecil ini tidak sembarangan. Kedua kakak beradik ini merayu soa soa menggunakan bahasa Biak yang berbunyi. “Hei, napiri Bo..”. Hal in dilakukan secara terus menerus hingga soa soa mau menghampiri dan menyerahkan dirinya.

Soa soa tersebut akhirnya dikuliti dan digunakan untuk menutupi salah satu sisi kayu berlubang yang telah mereka siapkan. Hasil kerja mereka itulah yang sampai saat ini dikenal dengan alat musik tifa.

Bentuk dan Fungsi Tifa

Berdasarkan cerita dari daerah Biak tersebut, bentuk tifa bisa digambarkan sebagai alat musik yang mirip dengan gendang. Tifa masuk dalam golongan alat musik pukul yang terbuat dari kayu bulat yang bagian tengahnya dilubangi dan salah satu sisinya ditutup dengan bahan kulit binatang.

Saat ditepuk di bagian kulitnya, alat musik yang satu ini akan menghasilkan suara ritmis. Berdasarkan jenisnya, tifa memiliki 5 kategori, yaitu Tifa Potong, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Bas, dan Tifa Jekir Potong. Kelima jenis tifa ini masing-masing memiliki ciri khas nada dan irama yang berbeda-beda.

Bagi masyarakat Papua, tifa selalu mengiringi acara-acara ritual yang mereka lakukan. Diantaranya adalah pesta adat, upacara penyambutan serta tari-tarian khas di Papua seperti  Gatsi, Asmat, Perang, dan tarian tradisional lainnya. Bahkan, tifa wajib dimainkan saat diketahui ada yang hamil, melahirkan, menuju dewasa, hingga ada yang meninggal dunia.

Orang yang diperkenankan untuk memainkannya hanyalah para pria dewasa saja. Sedangkan kaum wanita dilarang untuk menyentuhnya dan hal ini menjadi amanat yang mereka patuhi dan telah berlangsung secara turun temurun.

Tidak hanya itu, pria Papua dewasa yang ingin memainkan tifa ini juga harus mengikuti serangkaian prosedur. Hal ini dilakukan demi mendapatkan izin dari tetua adat dan masyarakat setempat. Kecuali, alat musik khas Papua ini dimainkan hanya untuk mengiringi acara pertunjukan musik.

Itulah sekilas tentang alat musik tifa yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua. Dengan mengetahui sejarah, bentuk, dan fungsinya diharapkan Anda akan semakin memahami dan menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia agar tidak hilang ditelan masa.